Before....
Pemandangan seperti ini sering kita jumpai disaat pembelajaran. Pada waktu guru menerangkan, siswa main HP atau tiduran, yang mengesankan mereka ogah-ogahan mengikuti pembelajaran. Tidak ada semangat dan rasa ketertarikan pada materi yang disampaikan guru. Sebagai guru hal ini membuat jengkel dan geram sampai menghabiskan waktu pembelajaran hanya untuk memarahi siswa-siswa seperti itu. Sehingga materi yang ditargetkan selesai, tidak terpenuhi.
Perbincangan tentang perilaku murid yang tidak bersemangat di kelas sering menjadi bahan obrolan di ruang guru. Hal ini pun menjadi topik yang paling favorit untuk dibicarakan. Lantas dicari jawaban, mengapa ini bisa terjadi? Mengijinkan siswa membawa HP menjadi bumerang, siswa lebih tertarik dengan HP-nya ketimbang memperhatikan materi guru (teknologi disalahkan). Murid A, murid B, murid C dijadikan alasan guru penyebab keadaan kelas yang tidak kondusif, dianggap tidak pandailah, menjadi biang kerok keributan kelas dan vonis lain-lain dari guru. Lagi-lagi murid yang disalahkan. (Pernahkan sebagai guru introspeksi diri, mengapa hal ini bisa terjadi?)
Hingga pada suatu saat, dimana saya mendapat kesempatan mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan ke 7. Dengan materi pertama mengenai "Filosofi Pemikiran KHD". Selama ini, yang terkenal dari KHD adalah semboyannya "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani." Akan tetapi, setelah mempelajari banyak hal dan mengupas tentang filosofi KHD, sungguh luar biasa Bapak Pendidikan Indonesia ini. Sering kita peringati hari lahir beliau 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, tanpa kita mau memaknai dan mengamalkan ajaran yang beliau sampaikan.
Salah satu filosodi KHD yang sangat luar biasa adalah "pendidikan yang menghamba kepada anak". Filosofi ini sejalan dengan pendapat ahli dunia mengenai pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Bagaimana memaknai dan mengimplementasikan pendidikan yang menghamba pada anak? Pendidikan, oleh KHD dimaknai sebagai proses menuntun tumbuhnya kekuadrat kodrat yang ada pada anak. Pada proses "menuntun", anak diberi kebebasan (merdeka belajar) untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, tanpa adanya paksaan. Setiap anak mempunyai kekuatan kodrat, dan kewajiban guru hanyalah memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya.
Anak dengan bakatnya dibidang seni, tuntunlah ia agar menjadi seniman yang hebat, bukan memaksanya menjadi ilmuwan. Seperti yang disampikan KHD, pendidik hanya menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat anak, agar dapat memperbaiki lakunya, bukan dasarnya hidup dan tumbuhnya itu. KHD mengibaratkan, seorang petani yang menanam padi. Ia hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, memperbaiki kondisi tanah, memberi pupuk, menjaga pengairan yang cukup, membasmi ulat atau gulma yang menganggu tumbuhnya padi. Tumbuhnya tanaman padi dapat diperbaiki, namun petani tidak dapat mengubah kodratnya padi. Misalnya mengubah tanaman padi menjadi jagung.
Bagaimana pemikiran KHD tentang teknologi?
KHD mengingatkan bahwa, didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Artinya, cara belajar murid di abad 21 berbeda dengan cara belajar murid di abad 20. Saat kita (guru) menjadi murid dulu, tidak ada pembelajaran dengan menggunakan HP atau fasilitas internet. Belajar hanya bersumber pada guru dan guru. Media pembelajaran utama papan tulis, sedangkan saat ini guru dapat membawa singa ke dalam ruang kelas melalui media internet. Teknologi suatu hal yang mustahil ditinggalkan dalam pembelajaran. Penggunaan teknologi yang tepat akan membawa kebermanfaatan besar untuk pendidikan. Kemudian yang menjadi pertanyaan, sudahkah kita (guru) menggunakan teknologi yang bermanfaat itu untuk pembelajaran di kelas?
After,,,
Setelah mempelajari pemikiran KHD mengenai pendidikan, pada awalnya saya dihinggapi rasa bersalah kepada siswa-siswa saya selama ini. Bagaimana saya memberi sanksi pada siswa yang tidak mengerjakan tugas sesuai target, bagaimana saya memaksa siswa untuk menyukai mata pelajaran yang saya ampu (matematika), bagaimana saya memaksa siswa mengerjakan soal-soal yang tidak sesuai dengan kemampuanya (kodratnya), dan lain-lain dosa yang saya buat pada mereka.
Saya mulai memperbaiki diri dengan mengubah mindset saya terhadap proses pembelajaran, baik itu tentang siswa, materi dan proses itu sendiri. Hal-hal yang saya lakukan:
- Membuat suasana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan
- Memperlakukan murid seperti teman/sahabat, sehingga ada kedekatan emosional antara siswa dan guru
- Pembelajaran dilakukan sesuai dengan karakteristik siswa dan tingkat kemampuannya
- Menggunakan berbagai macam metode pembelajaran yang berpusat pada siswa
- Mengikuti perkembangan teknologi agar dapat menyampaikan pembelajaran yang kekinian
Setelah menerapkan beberapa langkah di atas, perubahan mulai terjadi di kelas. Siswa semangat mengikuti pembelajaran (walau dijam terakhir), siswa kelas XII IPS antusias mengerjakan soal-soal secara berkelompok, keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran makin tinggi, siswa menjadi lebih percaya diri untuk melakukan presentasi. Hal ini dapat dilihat dari dokumentasi yang saya ambil saat pembelajaran di kelas.
Siswa aktif dalam pembelajaran
Siswa lebih PD saat presentasi
Memanfaatkan teknologi saat post test





