Senin, 07 November 2022

Before, After...sebuah refleksi dari materi filosofi pemikiran KHD (Erma Hanifah N_Tugas Koneksi Antar Materi Modul 1.1_CGP 7)

Before....

             

        Pemandangan seperti ini sering kita jumpai disaat pembelajaran. Pada waktu guru menerangkan, siswa main HP atau tiduran, yang mengesankan mereka ogah-ogahan mengikuti pembelajaran. Tidak ada semangat dan rasa ketertarikan pada materi yang disampaikan guru. Sebagai guru hal ini membuat jengkel dan geram sampai menghabiskan waktu pembelajaran hanya untuk memarahi siswa-siswa seperti itu. Sehingga materi yang ditargetkan selesai, tidak terpenuhi. 

        Perbincangan tentang perilaku murid yang tidak bersemangat di kelas sering menjadi bahan obrolan di ruang guru. Hal ini pun menjadi topik yang paling favorit untuk dibicarakan. Lantas dicari jawaban, mengapa ini bisa terjadi? Mengijinkan siswa membawa HP menjadi bumerang, siswa lebih tertarik dengan HP-nya ketimbang memperhatikan materi guru (teknologi disalahkan). Murid A, murid B, murid C dijadikan alasan guru penyebab keadaan kelas yang tidak kondusif, dianggap tidak pandailah, menjadi biang kerok keributan kelas dan vonis lain-lain dari guru. Lagi-lagi murid yang disalahkan. (Pernahkan sebagai guru introspeksi diri, mengapa hal ini bisa terjadi?)

            Hingga pada suatu saat, dimana saya mendapat kesempatan mengikuti Program Pendidikan Guru Penggerak Angkatan ke 7. Dengan materi pertama mengenai "Filosofi Pemikiran KHD". Selama ini, yang terkenal dari KHD adalah semboyannya "Ing Ngarsa Sung Tuladha, Ing Madya Mangun Karsa, Tut Wuri Handayani." Akan tetapi, setelah mempelajari banyak hal dan mengupas tentang filosofi KHD, sungguh luar biasa Bapak Pendidikan Indonesia ini. Sering kita peringati hari lahir beliau 2 Mei sebagai Hari Pendidikan Nasional, tanpa kita mau memaknai dan mengamalkan ajaran yang beliau sampaikan.

            Salah satu filosodi KHD yang sangat luar biasa adalah "pendidikan yang menghamba kepada anak". Filosofi ini sejalan dengan pendapat ahli dunia mengenai pendekatan pembelajaran berpusat pada siswa (student centered). Bagaimana memaknai dan mengimplementasikan pendidikan yang menghamba pada anak? Pendidikan, oleh KHD dimaknai sebagai proses menuntun tumbuhnya kekuadrat kodrat yang ada pada anak. Pada proses "menuntun", anak diberi kebebasan (merdeka belajar) untuk mengembangkan potensi yang ada dalam dirinya, tanpa adanya paksaan. Setiap anak mempunyai kekuatan kodrat, dan kewajiban guru hanyalah memberi tuntunan dan arahan agar anak tidak kehilangan arah dan membahayakan dirinya. 

            Anak dengan bakatnya dibidang seni, tuntunlah ia agar menjadi seniman yang hebat, bukan memaksanya menjadi ilmuwan. Seperti yang disampikan KHD, pendidik hanya menuntun tumbuhnya kekuatan kodrat anak, agar dapat memperbaiki lakunya, bukan dasarnya hidup dan tumbuhnya itu. KHD mengibaratkan, seorang petani yang menanam padi. Ia hanya dapat menuntun tumbuhnya padi, memperbaiki kondisi tanah, memberi pupuk, menjaga pengairan yang cukup, membasmi ulat atau gulma yang menganggu tumbuhnya padi. Tumbuhnya tanaman padi dapat diperbaiki, namun petani tidak dapat mengubah kodratnya padi. Misalnya mengubah tanaman padi menjadi jagung.

            Bagaimana pemikiran KHD tentang teknologi?

KHD mengingatkan bahwa, didiklah anak-anak dengan cara yang sesuai dengan kodrat alam dan kodrat zamannya. Artinya, cara belajar murid di abad 21 berbeda dengan cara belajar murid di abad 20. Saat kita (guru) menjadi murid dulu, tidak ada pembelajaran dengan menggunakan HP atau fasilitas internet. Belajar hanya bersumber pada guru dan guru. Media pembelajaran utama papan tulis, sedangkan saat ini guru dapat membawa singa ke dalam ruang kelas melalui media internet. Teknologi suatu hal yang mustahil ditinggalkan dalam pembelajaran. Penggunaan teknologi yang tepat akan membawa kebermanfaatan besar untuk pendidikan. Kemudian yang menjadi pertanyaan, sudahkah kita (guru) menggunakan teknologi yang bermanfaat itu untuk pembelajaran di kelas?

After,,,

        Setelah mempelajari pemikiran KHD mengenai pendidikan, pada awalnya saya dihinggapi rasa bersalah kepada siswa-siswa saya selama ini. Bagaimana saya memberi sanksi pada siswa yang tidak mengerjakan tugas sesuai target, bagaimana saya memaksa siswa untuk menyukai mata pelajaran yang saya ampu (matematika), bagaimana saya memaksa siswa mengerjakan soal-soal yang tidak sesuai dengan kemampuanya (kodratnya), dan lain-lain dosa yang saya buat pada mereka.

        Saya mulai memperbaiki diri dengan mengubah mindset saya terhadap proses pembelajaran, baik itu tentang siswa, materi dan proses itu sendiri. Hal-hal yang saya lakukan:

  1. Membuat suasana pembelajaran yang nyaman dan menyenangkan
  2. Memperlakukan murid seperti teman/sahabat, sehingga ada kedekatan emosional antara siswa dan guru
  3. Pembelajaran dilakukan sesuai dengan karakteristik siswa dan tingkat kemampuannya
  4. Menggunakan berbagai macam metode pembelajaran yang berpusat pada siswa
  5. Mengikuti perkembangan teknologi agar dapat menyampaikan pembelajaran yang kekinian

        Setelah menerapkan beberapa langkah di atas, perubahan mulai terjadi di kelas. Siswa semangat mengikuti pembelajaran (walau dijam terakhir), siswa kelas XII IPS antusias mengerjakan soal-soal secara berkelompok, keterlibatan siswa dalam proses pembelajaran makin tinggi, siswa menjadi lebih percaya diri untuk melakukan presentasi. Hal ini dapat dilihat dari dokumentasi yang saya ambil saat pembelajaran di kelas.

              Siswa aktif dalam pembelajaran                

 

Siswa lebih PD saat presentasi  

                                                  Memanfaatkan teknologi saat post test                   

                                          

                                                          Siswa aktif diskusi kelompok   
                                            

Kelas XII IPS pun antusias mengerjakan soal 

    
            Demikian refleksi saya dan dampaknya pada pembelajaran di kelas setelah saya mempelajari materi modul 1.1. 
            


Jumat, 21 Januari 2022

Matematika kehidupan



 Berawal dari status teman yang menggelitik otak untuk dikomentari. Dalam statusnya tertulis "tidak terdefinisi". Tidak bisa kita bohongi saat ini "status" seseorang dalam aplikasi WA menunjukkan suasana hari seseorang, apa yang sedang dipikirkan, atau yang sedang dirasakan.

Sehingga dari status itu bisa kita duga suasana hatinya. Kata-kata "tidak terdefinisi" dapat diartikan tidak tahu harus bagaimana, mau apa, semua serba tidak jelas. Ketika ada seseorang dengan kondisi begitu, ingin rasanya menganalogikan ke dalam ilmu matematika. 

Dalam matematika, 1 dibagi 0 hasilnya tidak terdefinisi, 27 dibagi 0 hasilnya tidak terdefinisi, 1.000.000 dibagi 0 hasilnya tidak terdefinisi. Jadi, bilangan berapapun jika dibagi nol hasilnya tidak terdefinisi. Agar hasilnya terdefinisi, bagilah dengan bilangan selain 0. Misalnya 1, 2, 3, dst.

Jika dikaitkan dengan status WA tadi, agar suasana hati terdefinisi, maka bagilah dengan 1, 2, 3, atau lebih orang terdekat. Maka hati akan terdefinisi. Apa yang dirasakan nampak jelas, ada, dan pasti membuat hati juga lega. Jangan membagi dengan 0, yang artinya tidak dibagi dengan siapapun. 

Perlu diingat juga, ketika membagi pilihlah bilangan yang tepat agar hasilnya sesuai keinginan. Bagilah dengan bilangan positif agar hasilnya pun positif. Artinya, berbagilah dengan orang yang dapat dipercaya dan memberi solusi. Bukan malah sebaliknya. 

Selamat Berbagi....😀😀😀


Kamis, 06 Januari 2022

Awal Tahun di SMA N 1WONOSARI, KLATEN


Selama liburan semester gasal,siswa di SMA N 1 Wonosari (biasa kami sebut dengan SMANSARI) diisi dengan kegiatan lomba karya tulis ilmiah untuk bidang SAINS & SOSIAL, serta lomba pembuatan film pendek untuk bidang BAHASA & SASTRA.
Lomba ini diprakarsai oleh Kepala Sekolah SMANSARI, Ibu Tantri Ambarsari,S.Pd,M.Eng. Lomba berbasis Collaborative Project ini bertujuan untuk mengasah kemampuan berfikir kritis, berkolaborasi, mengimplementasikan ilmu yang telah diperoleh siswa dikehidupan sehari-hari, serta melatih siswa untuk berkompetisi.
Kegiatan yang diberi nama Lomba Kreativitas Siswa SMANSARI Berbasis Collaborative Project ini didesain agar siswa mampu melihat suatu fenomena/peristiwa dilingkungan sekitarnya dari berbagai sudut keilmuan yang sudah dipelajarinya.
Misal untuk siswa kelas MIPA yang mengikuti lomba bidang SAINS, mereka harus mampu mengakaitkan karya ilmiahnya dengan mata pelajaran Matematika, Fisika, Kimia, Biologi. untuk bidang SOSIAL dengan mapel Ekonomi, Geografi, Sosiologi dan Sejarah.
Siswa begitu antusias mengikuti lomba ini. Selain menambah pengalaman, siswa juga tertantang dengan hadiahnya. Juara 1 mendapat uang pembinaan 500k, juara 2 300k dan juara 3 200k. 
Rabu, 5 Januari 2022 dilaksanakan final Lomba Kreativitas Siswa SMANSARI Berbasis Collaborative Project. Final diikuti oleh 5 finalis dari masin-masing bidang. Mengikuti perjalanan mereka dari penyusunan karya tulis dan akhirnya sampai final, seru sekali rasanya. Ikut tegang dibuatnya, ketika giliran presentasi kurang 5 menit, juru bicara tim belum datang. Anggota kelompok panik, menangis, bingung. Alhamdulillaah....pas dipanggil juri untuk masuk ruang presentasi pas dia datang, terlihat wajah-wajah lega anggota timnya. Ada lagi, yang mau presentasi saking gugupnya bingung mengoperasikan laptop. 
Ini akan menjadi pengalaman yang sangat  berharga bagi siswa. Bagaimana mereka harus dapat mengontrol diri disaat kondisi tertekan (panik, tegang). 
Semoga dengan adanya kegiatan ini membawa banyak manfaat bagi siswa SMANSARI.

Before, After...sebuah refleksi dari materi filosofi pemikiran KHD (Erma Hanifah N_Tugas Koneksi Antar Materi Modul 1.1_CGP 7)

Before....                         Pemandangan seperti ini sering kita jumpai disaat pembelajaran. Pada waktu guru menerangkan, siswa main H...